Monday, 25 May 2020

#RefleksiDiri3: Rindu itu berat, tapi buktinya kita kuat.


Hai, apa kabar?
Semoga kalian selalu dalam keadaan baik, sehat dan bahagia.
Selama masa di rumah aja, saya banyak merenung alias yaelah bengong kali, segala bahasa lu merenung. Hahaha

Tapi serius deh, entah kenapa terlalu lama di rumah membuat saya jadi sering berpikir, ya tentang hal-hal random aja. Terus emosi juga jadi gak menentu, nanti seneng terus tiba-tiba bete, gak lama jadi sedih dan marah. Ada yang merasakan hal serupa? Kalo iya, tos dulu!
Selama masa-masa di rumah aja, saya sering rewel pengeen banget keluar rumah, aktivitas seperti biasa, ketemu banyak orang dan temen-temen. Saya selalu sebel ketika ngeliat orang lain yang gak ada kepentingan apa-apa keluar rumah, masih main ke tempat umum, gak pakai masker dan gak jaga jarak. Saat itu sebel bangetttt deh pokoknya. Hal apa sih apa sih yang membuat mereka kayak gitu? Apa gak sayang sama keluarga? Apa gak kasihan sama tim medis? Ituuu terus yang ada dipikiran saya ketika melihat hal serupa yang terjadi berulang-ulang. Tentu selama masa di rumah aja, yang lagi merasa kangen itu bukan cuma saya, mungkin hampir sebagian penduduk di negeri ini juga merasakan hal yang sama, dan bisa aja lebih berat dari apa yang saya rasakan sekarang. Ada yang kangen sama anak, orang tua, pacar, temen, saudara. Apalagi momen ramadan dan lebaran yang terasa sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Udah kangen berat tapi gak bisa ketemu. Alasannya sederhana, yaitu karena sadar bahwa lebih baik saya tersiksa menahan rindu sekarang dari pada tersiksa melihat orang terkasih sakit karena penyakit ini nantinya. Lho, kalo dipikir-pikir, kita semua ini kayak Dilan, kuat kok nahan rindu. (Yaelahhh..)

Kita sama-sama tahu bahwa pandemi ini gak cuma memukul kesehatan aja, tapi semua hal, ekonomi, pendidikan, proyek pembangunan, dan lain sebagainya. Banyak hal yang sudah kita rencanakan di tahun ini belum bisa terwujud, dan kita dipaksa untuk berdamai dengan berbagai kekecewaan yang menyesakkan hati. Apalagi tahu bahwa di luar sana banyak yang benar-benar terpuruk perekonomiannya, gak ada pandemi ini aja mereka udah kesulitan. Membayangkan buat makan sehari-hari aja susah. Tapi kita selalu menemukan orang-orang baik yang selalu membantu sesama. Lagi-lagi hati jadi merasa hangat melihat kebaikan-kebaikan seperti itu.

Selama pandemi ini juga banyak cerita-cerita viral yang berseliweran di media sosial, banyak komentar-komentar hate tentang kejadian itu. Tentu saya juga merasa gak setuju dan jari tuh juga gatel mau menunjukkan opini dan berkomentar. Tapi rasanya jadi gak tenang. Kala itu saya jadi ingat tulisan dari Kak Edward Suhadi bahwa kita sendiri yang memilih hal-hal yang masuk ke dalam pikiran kita. Perlahan kita harus belajar selektif terhadap itu, karena secara gak sadar bisa membentuk pola pikir yang gak sehat. Kita yang memilih mau tumbuh menjadi orang yang seperti apa. Kita yang pegang kendali atas semua itu.

Nah, itu yang membuat saya merasa disadarkan.

Dari berbagai kejadian yang saya rasakan selama ini saya mencoba jabarkan dalam tulisan ini, saya menarik kesimpulan bahwa salah satu obat supaya kita tetap legowo, ya, bersyukur. Akhir-akhir ini juga langit sungguh memukau bukan? seolah lagi menghibur penduduk bumi yang lagi sedih. Semoga diantara banyak hal, kita masih bisa menemukan hal-hal baik. Apalagi kalau itu datangnya dari diri kita sendiri. Apa yang saya tulis hanya sebuah ungkapan dari apa yang saya rasakan, juga, sebagai pengingat saya untuk bertindak. Lebih dari itu, semua hanya bonus.
Selamat lebaran, ya.
Salam kangen.
Peluk jauh.
Saya menantikan momen bertemu dengan kalian, teman-teman. Pasti bakal heboh dan seru banget, hehe.

#CumaSudutPandang
#RefleksiDiri

Tuesday, 7 April 2020

#RefleksiDiri2: Bertambah yang berkurang.


Sejatinya bertambah usia bukan lagi perihal ceremonial saja, tetapi juga jadi momen refleksi atau muhasabah diri. Merenung dan belajar lagi melihat “ke dalam” (diri sendiri). Saya mengibaratkan bahwa bertambah usia sama seperti memijak sebuah batu, batu yang ke sekian saya pijak dan entah sisa berapa batu lagi. Perjalan dan proses pendewasaan tentu sangatlah berat, saya ingat kala itu dosen saya pernah berkata bahwa yang sangat membahayakan kita bukanlah batu besar yang menghadang tetapi kerikil-kerikil di jalan yang membuat kaki menjadi sangat amat sakit dan mungkin saja bisa tergelincir atau terpaduk hingga jatuh.
 
Saya merasa setahun belakang ini, hati dan pikiran seperti sibuk sekali. Sibuk berpikir, mencerna, menimbang harus seperti apa dalam bersikap dan membuat keputusan. Rasanya lelah banget, tidak bebas. Tentu hal yang harus dipegang erat-erat adalah tidak boleh gampang menyerah. Namun di sisi lain harus tahu diri juga, tahu kapasitas diri, kalau gak mampu yasudah jangan dipaksakan karena hasilnya pun bisa jadi mengecewakan, entah mengecewakan diri sendiri atau mengecewakan orang lain. Terkadang menyerah selalu menjadi opsi paling besar untuk diambil.
Saya pernah berada di lingkungan yang saya sendiri tidak ingin ada di sana, tapi entah ego siapa yang dituruti sehingga membuat saya “terjebak” dalam lingkaran tersebut. Sangat amat merasa under pressure. Sampai saat itu saya membatin, bahwa selama 20 tahun saya hidup, itu merupakan keputusan yang paling buruk yang saya ambil. Bahkan pada saat itu saya sangat takut tidak disukai oleh banyak orang. (Aneh banget ya hehe..) Hal itu sederhana, tapi entah mengapa menjadi sangat dilematis, untungnya beberapa teman menyemangati bahwa sebetulnya pundak kita sedang sama-sama berat karena beban, hanya gak terlihat saja beban siapa yang paling banyak. Setelah proses itu terlewati, saya sampai pada suatu titik dan menarik kesimpulan bahwa pilihan yang kita ambil menjadi penilaian orang lain terhadap kita dan gapapa kok dinilai jelek sama orang lain. Mereka gak tahu apa-apa. Saya jadi ingat kutipan yang dibuat oleh Tsana, yang kurang lebih seperti ini
“kita cuma lihat apa yang kelihatan aja,
denger apa yang kedengeran,
ngerasain yang kerasa ada aja.
Padahal ada banyak hal yang disembunyikan, dirahasiain.
Lagi-lagi banyak hal baik yang image-nya harus buruk.
....satu banding seribu gak akan worth it”

Lagian setiap manusia punya batasnya masing-masing, kalau gak mampu ya gapapa, bisa belajar terus dan coba lagi. Hal yang seperti di atas, pasti akan ada lagi suatu saat nanti, lingkungan dan modelnya saja yang mungkin akan berbeda. Ternyata penting banget berdamai dengan diri, memaafkan diri sendiri dan orang lain, ketenangan itu yang kita cari bukan? Sama seperti apa yang dibilang Ed Sheeran di twitternya yaitu “i can’t tell you the key to success, but the key to failure is trying to please everyone”.
Saat ini saya menantikan hal apa yang akan terjadi satu tahun ke depan. Cerita apa yang bisa saya bagikan di tahun depan, mulai saat ini tulisan ini akan jadi barometer. Apakah ada perkembangan dalam diri saya atau tidak? Jalan masih panjang dan memperbaiki diri masih menjadi jobdesk utama.
Tentu kalian punya cerita yang tidak kalah hebat, jika tidak ada yang mendengar, coba keluarkan lewat tulisan. Saya jamin akan lega, walau hanya sedikit hehe..

#CumaSudutPandang
#RefleksiDiri

#RefleksiDiri1 : Yang lagi susah, bukan hanya kamu.



Tahun 2020, tahun yang luar biasa. Dari awal tahun hingga saat ini rasanya kita sudah banyak sekali menghadapi problematika, ya gak sih? Kalo gue boleh berpendapat, tahun ini adalah tahun untuk kuat dan sabar.  Untuk mahasiswa akhir seperti gue, tentu gak ada hal lain yang dipikirkan untuk cepet-cepet lulus kuliah. Segala rencana dan jadwal yang sudah dibuat sedemikian rupa jadi tidak bisa terealisasikan dengan mulus. Lagi-lagi kita ini cuma perencana yang handal, tapi soal ketentuan tetap ada di tangan Allah SWT. By the way, gue kuliah di fakultas keguruan yang di mana kami para mahasiswa fakultas tersebut rata-rata melakukan penelitian di sekolah, sedangkan saat ini sekolah diliburkan.  Rasanya gimana coba tuh? Sedih? Sudah pasti. Panik? Jangan ditanya. Marah? Ingin, tapi gak bisa. Tapi gue jadi sadar, rasanya gak etis aja ketika banyak orang yang sedang mengalami kesusahan, tapi masih ngeluh dan meninggikan ego di tengah situasi kayak gini. Merasa hanya suaranya yang harus di dengar. Padahal katanya mahasiswa, seorang yang intelek, yang melihat dan menilai kejadian itu pakai data dan fakta. Nalar dan hati nurani pun juga harus ada bagian disitu. (plak! Serasa tertampar)

Lagi-lagi soal jarak, berdasarkan informasi yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah daerah yang memberitakan bahwa akan hampir satu bulan lebih kita di rumah saja. Mulai dari belajar dan kerja dilakukan di rumah. Temen-temen yang cerita ke gue, kalau kuliah online lebih ribet dan banyak banget tugas. Gue cuma bisa bilang “yauda, gapapa ngeluh asal dikerjain dan selesai”.  Dan gak sedikit yang kecewa ketika gue jawab kayak gitu. Gue tahu dan paham persis gimana rasanya, karena dulu juga gue pernah ada di fase itu. Kuliah daring Aceh-Bogor selama dua bulan, ditambah kuliah offline di kampus program pertukaran. E-learning pada satu mata kuliah langsung tujuh topik, yang seharusnya satu minggu satu topik. Deadline ditanggal yang sama. Itu baru satu mata kuliah. Begadang tuh udah jadi rutinitas kami pada saat itu dan paginya tetep kuliah tatap muka. Tapi fase itu terlewati begitu aja, emang harus tahan banting kita tuh. Bahkan akan banyak hal yang lebih capek dan lebih pahit yang bikin kita ingin ngomong “anjirlah, sialan!”

Lagian saat ini yang merasa susah bukan gue atau kalian aja, jadi yaaa agak tenang hehe. Semua juga lagi merasa kesusahan kok. Mungkin dari sini kita bisa lebih menghargai hal-hal atau pun proses yang sedang kita jalani. Toh, sekarang kita lebih rindu capek karena banyaknya kegiatan di luar, lalu ketika kita sedang merasa capek dengan segudang aktivitas, kita selalu mendambakan istirahat atau sekedar rebahan aja yang saat ini jadi kegiatan rutin. Tentunya ini hanya sekedar cerita yang ingin gue bagikan saja, kalian juga pasti punya cerita versi kalian masing-masing.
Tetap semangat, kawan.
Tetap jaga kesehatan.
Yang lagi kangen gak cuma kamu doang, gue pun sama.
Sampai berjumpa setelah wabah ini benar-benar sudah hilang. Cheers!

#CumaSudutPandang
#RefleksiDiri

#RefleksiDiri3: Rindu itu berat, tapi buktinya kita kuat.

Hai, apa kabar? Semoga kalian selalu dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Selama masa di rumah aja, saya banyak merenung alias yae...